Menu

Sejarah Raden Kian Santang Sampai Bertemu Ali Bin Abi Tholib

July 5, 2018 | sejarah

Prabu Siliwangi punya sebagian putra dan putri, diantaranya adalah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang, yang keduanya adalah putra dan putri yang paling disayangi sang Prabu. Raden Kian Santang tenar bersama kesaktiannya yang luar biasa.

Di dunia persilatan nama Raden Kian Santang telah tak asing ulang agar seluruh Pulau Jawa lebih-lebih Nusantara sementara itu sangat mengenal siapa Raden Kian Santang. Tak tersedia yang mampu mengalahkannya. Bahkan, Raden Kian Santang sendiri tak dulu lihat darahnya sendiri.

Suatu ketika, Raden Kian Santang yang adalah putra Prabu Siliwangi itu terkejut saat di dalam mimpinya tersedia seorang kakek berjubah yang menjelaskan bahwa tersedia seorang manusia yang mampu mengalahkannya, dan kakek berikut tersenyum. Mimpi itu berlangsung sebagian kali hingga Raden Kian Santang bertanya-tanya siapa gerangan orang itu. Dalam mimpi seterusnya sang kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata bahwa orang itu di sana.

Penasaran bersama mimpinya, Raden Kian Santang pun menghendaki ijin kepada ayahandanya, Prabu Siliwangi untuk pergi menuju seberang lautan, dan menceritakan semuanya. Prabu Siliwangi meskipun berat hati senantiasa mempersilahkan putranya itu pergi. Namun Ratu Rara Santang, adik perempuan Raden Kian Santang, mengidamkan ikut kakaknya tersebut.

Meski dicegah, Ratu Rara Santang senantiasa bersikeras ikut kakaknya, yang selanjutnya mereka berdua pergi menyeberangi lautan yang sangat luas menuju suatu area yang ditunjuk orang tua alias si kakek berjubah di dalam mimpi Raden Kian Santang itu.

Hari demi hari, minggu bergeser minggu dan genap delapan bulan perjalanan sampailah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang ke sebuah dataran yang asing, tanahnya begitu kering dan tandus, padang pasir yang sangat luas dan juga terik matahari yang sangat menyengat mereka melabuhkan perahu yang mereka tumpangi.

Tiba-tiba datanglah seorang kakek yang begitu sangat dikenalnya. Yah, kakek yang dulu mampir di dalam mimpinya itu. Kakek itu tersenyum dan berkata: “Selamat mampir anak muda! Assalamu alaikum!” Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang cuma saling berpandangan dan cuma berkata: “Aku mengidamkan berjumpa bersama Ali, orang yang dulu kau katakan mampu mengalahkanku.”

Dengan tersenyum kakek itu pun berkata: “Anak muda, kau mampu berjumpa Ali kecuali mampu mencabut tongkat ini!” Lalu si kakek itu menancapkan tongkat yang dipegangnya.

Kembali Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang saling berpandangan, dan Raden Kian Santang tertawa terbahak-bahak. “Hai orang tua! Di negeri kami adu kapabilitas bukan seperti ini, tetapi adu olah kanuragan dan kesaktian. Jika cuma mencabut tongkat itu membuat apa aku jauh-jauh ke negeri tandus seperti ini? Ujar Raden Kian Santang mengejek.

Kakek itu ulang tersenyum. “Anak muda, kecuali kau mampu mencabut tongkat itu kau mampu mengalahkan Ali, kecuali tidak kembalilah kau ke negerimu anak sombong.” Kata orang tua itu.

Akhirnya Raden Kian Santang mendekati tongkat itu dan mengusahakan mencabutnya. Namun upayanya tak berhasil. Semakin dia coba makin kuat tongkat itu menghunjam.

Keringatnya bercucuran, sementara Ratu Rara Santang nampak kuatir bersama kondisi kakaknya, saat tiba-tiba darah di tangan Raden Kian Santang menetes, dan jelas bahwa orang tua yang di hadapan mereka bukan orang sembarangan.

Saat itu, lutut Raden Kian Santang bergetar dan dia mulai kalah. Ratu Rara Santang yang terus perhatikan kakaknya segera membantunya, tetapi tongkat itu senantiasa tak bergeming, selanjutnya mereka sangat mengaku kalah.

“Hai orang tua! Aku mengaku kalah dan aku tak kemungkinan mampu melawan Ali. Melawan dirimu pun aku tak bisa! Tapi ijinkan aku berjumpa dengannya dan berguru kepadanya.” Ujar Raden Kian Santang.Kakek itu ulang tersenyum. “Anak muda! Jika Kau mengidamkan berjumpa Ali, maka akulah Ali.

Tiba-tiba mereka berdua bersujud kepada orang tua itu, tetapi tangan orang tua itu bersama cepat menahan keduanya bersujud, Jangan bersujud kepadaku anak muda! Bersujudlah kepada Zat yang menciptakanmu, yaitu Allah!”

Akhirnya mereka berdua ikuti orang tua tersebut, yang ternyata Ali Bin Abi Tholib, ke Baitullah dan memeluk agama Islam.

Begitulah, Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang mempelajari Islam bersama sungguh-sungguh. Dalam perjalanannya Raden Kian Santang ulang ke pulau Jawa dan menyebarkan Islam di area Garut hingga meninggalnya. Sedangkan Ratu Rara Santang dipersunting oleh tidak benar satu pangeran dari tanah Arab yang bernama Syarif Husen.

Perkawinan pada Ratu Rara Santang dan Syarif Husen itu menghasilkan dua putra, yaitu Syarif Nurullah dan Syarif Hidayatullah. Syarif Nurullah menjadi penguasa Makkah sementara itu, sedangkan Syarif Hidayatullah pergi ke Jawa untuk berjumpa bersama bapak dan kakeknya.

Syarif Hidayatullah pamit untuk pergi ke Jawa dan mengidamkan menyebarkan Islam ke sana. Dan pergilah Syarif Hidayatullah mengarungi samudera nan luas seperti halnya dulu ibu dan pamannya, Ratu Rara Santang dan Raden Kian Santang.

Setibanya di tanah Jawa, Syarif Hidayatullah tidak susah berjumpa bersama bapak dan kakeknya. Namun Syarif Hidayatullah prihatin karena hingga sementara itu kakeknya tetap belum masuk ke dalam agama Islam dan senantiasa bersikukuh bersama agamanya yaitu agama Sunda Wiwitan, meski beraneka upaya terus ditunaikan dan dia cuma berdoa semoga kakeknya suatu sementara diberi hidayah oleh Allah.

Melihat keuletan cucunya dalam menyebarkan Agama Islam, Prabu Siliwangi mengimbuhkan area kepada cucunya sebuah hutan yang lantas bernama Cirebon. Dan di sinilah pusat penyebaran Islam dimulai. Murid – muridnya kian bertambah dan Islam sangat cepat menyebar.

Dalam penyebarannya Syarif Hidayatullah mengembara ke ujung barat pulau Jawa, ke area kulon, area pendekar-pendekar banyak tersebar. Di Pandeglang tersedia Pangeran Pulosari dan pangeran Aseupan, juga terdapat Raja Banten yang tenar sangat sakti, lebih-lebih Raden Kian Santang pun segan kepadanya, yaitu Prabu Pucuk Umun, Raja Banten yang punya ilmu Lurus Bumi yang sangat sempurna, juga pukulan braja musti yang mampu menghancurkan gunung, lebih-lebih menggetarkan bumi.

Rupanya Syarif Hidayatullah telah jelas kesaktian Prabu Pucuk Umun yang menguasai area itu. Untuk segera mengajak Prabu Pucuk Umun masuk ke dalam Agama Islam sangat tidak mungkin, karena Syarif Hidayatullah jelas Prabu Pucuk Umun enteng sekali murka, dan hal ini sangat berbahaya.

Dengan bersusah payah Syarif Hidayatullah menemui Pangeran Pulosari dan juga Pangeran Aseupan, yang merupakan sepupu dari Prabu Pucuk Umun, dan rupanya Pangeran Pulosari dan Pangeran Aseupan sangat tertarik bersama ajaran agama yang di bawa oleh cucu Raja Pajajaran itu, dan keduanya menganut agama Islam.

Masuknya ke dua pangeran itu ke dalam agama yang dibawa Syarif Hidayatullah terdengar juga oleh Prabu Pucuk Umun, dan hal ini membuatnya murka. Tiba-tiba langit menjadi gelap, halilintar bergelegar bersahutan. Pangeran Aseupan dan Pangeran Pulosari jelas bahwa kakak sepupunya telah jelas masuknya mereka kepada agama yang dibawa Syarif Hidayatullah.

Dengan ilmu Lurus Buminya, Prabu Pucuk Umun memburu ke dua pangeran yang menurutnya berkhianat itu, dan terjadilah perkelahian yang sangat dahsyat. Pangeran Pulosari dan Pangeran Aseupan mengusahakan mengelak dari serangan-serangan yang ditunaikan kakak sepupunya itu.

Namun kesaktian luar biasa yang dimiliki Prabu Pucuk Umun mengakibatkan mereka lari ke arah selatan, dan di sanalah Syarif Hidayatullah tunggu mereka, dan bersama luka yang diderita mereka, selanjutnya mereka pun berlindung di belakang Syarif Hidayatullah.

Prabu Pucuk Umun berteriak: “Hai cucu Siliwangi! Jangan kau ganggu tanahku bersama agamamu, jangan kau usik ketenangan rakyatku, enyahlah kau dari sini sebelum saat kau menyesal dan berdosa kepada kakekmu.”

Dengan tersenyum Syarif Hidayatullah menjawab: “Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan agama ini, karena agama ini bukan cuma untuk satu orang tetapi untuk seluruh orang di dunia ini. Agama yang bakal menyelamatkanmu.”

“Aku tidak menyukai basa-basimu anak lancang!” Teriak Prabu Pucuk Umun bersama lantang dan menggelegar, dan dari arah depan tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, nampak Syarif Hidayatullah mundur sebagian langkah, sedangkan Pangeran Pulosari dan Pangeran Aseupan menempatkan kuda-kuda untuk menggempur serangan Prabu Pucuk Umun.

Pertarungan itu begitu dahsyatnya hingga Prabu Siliwangi dan Raden Kian Santang pun bersemedi mengimbuhkan daya kepada Syarif Hidayatullah.

Prabu Pucuk Umun merasakan panas yang teramat sangat, dia jelas bahwa serangannya telah berbalik arah kepadanya, dan bersama memakai Ilmu Lurus Bumi, Prabu Pucuk Umun melarikan diri, tetapi bersama sigap Pangeran Aseupan dan Pangeran Pulosari mengejarnya.

Dengan memakai ilmu yang mirip terjadilah kejar-kejaran pada ketiganya. Dan akhirnya, di puncak Gunung Karang, Prabu Pucuk Umun tertangkap, atas restu Prabu Siliwangi, Prabu Pucuk Umun tidak dibunuh, tetapi dimasukan ke kerangkeng di bawah kawah Gunung Krakatau.

Prabu Pucuk Umun punya putri yang cantik dan juga punya kesaktian yang tidak kalah bersama ayahnya, lebih-lebih lebih dari 1000 Jin di bawah pengaruhnya, dan dia bernama Ratu Kawunganten, Putri Prabu Pucuk Umun yang lantas diperistri oleh Syarif Hidayatullah. Ratu Kawunganten pun masuk Islam dan bergeser nama menjadi Siti Badariah.

Tidak berapa lama, Siti Badariah atau Ratu Kawunganten pun hamil, tetapi dia mengidam hal yang tidak lumrah menurut kesimpulan Syarif Hidayatullah, dia mengidamkan daging manusia. Sontak, Syarif Hidayatullah pun kaget dan marah. “Isteriku, kau telah menganut agama Islam, keinginanmu itu terlarang.” Tandas Syarif Hidayatullah.

Namun isterinya senantiasa mengidamkan daging manusia, dan Syarif Hidayatullah tak mampu berbuat banyak, beliau sangat marah dan meninggalkan isterinya dalam kondisi hamil dan ulang ke Cirebon.

Sepeninggal Syarif Hidayatullah, Siti Badariah atau Ratu Kawunganten ulang ke agama leluhurnya yaitu Agama Sunda Wiwitan, agama yang telah menjadi darah dan dagingnya.

Ratu Kawunganten atau Siti Badariah pun melahirkan seorang putra, dan diberi nama Pangeran Sabakingking, seorang Pangeran yang suatu sementara mendirikan Kesultanan Banten

Pangeran Sabakingking beranjak dewasa, dan dia menjadi pemuda yang gagah, pemuda yang keras, berani dan punya kesaktian yang luar biasa, ilmu-ilmu kesaktian ibunya mengalir ke tubuhnya, lebih dari 1000 Jin takluk atas perintahnya. Pangeran Sabakingking tak dulu mulai cemas kepada siapapun, dan nyaris seluruh pendekar di tanah Banten dulu berhadapan dengannya.

Suatu hari, Pangeran Sabakingking dipanggil ibunya, karena ia kudu jelas siapa ayahnya, Sabakingking pun menghadap ibunya.“Anakku, kau telah dewasa dan telah saatnya kau jelas siapa ayahmu. Ia berada di Cirebon dan telah menjadi Sultan di sana. Jika kau ke sana berikan tasbih ini kepadanya. Tasbih inilah yang dulu menjadi mahar perkawinan ibu bersama ayahmu.

Pergilah Pangeran Sabakingking menuju utara melewati hutan dan sungai, bukit lebih-lebih gunung di area yang dituju Pangeran Sabankingking segera menuju kesultanan Cirebon.

Di Kesultanan Cirebon itulah Pangeran Sabakingking lihat sebuah perbedaan yang mendasar. Terdengar suara adzan, dan juga alunan al Quran yang asing baginya, tetapi begitu menyejukkan hatinya. Tak berapa lama bertemulah Pangeran Sabakingking bersama seorang tua berjanggut panjang bersama mengenakan sorban. Orang tua itu nampak berwibawa dan punya sorot mata yang tajam.

Anak muda, tersedia keperluan apa kau ke sini? Tanya orang tua yang tak lain adalah Syarif Hidyayatullah itu. Aku mengidamkan berjumpa bersama Syarif Hidayatullah dan menyerahkan tasbih ini dari ibuku.” Tasbih itu pun di terima Syarif Hidayatullah sembari menerawangkan matanya. “Apakah kau anak Kawunganten?” “Benar! Aku Sabakingking Putra Kawunganten!”

“Akulah Syarif Hidayatullah yang kaucari anak muda. Namun aku tidak begitu saja mengakui kau sebagai anakku, karena tersedia syarat yang kudu kau laksanakan.” “Apa itu?” Buatlah sebuah bangunan masjid lengkap bersama menaranya di Banten. Tapi ingat, cuma 1 malam saja.

Jika hingga keluar matahari dan perkerjaanmu belum selesai, jangan ingin aku bakal mengakui kau sebagai anakku.” Ujar Syarif Hidayatullah. “Baiklah! aku bakal melaksanakan perintahmu.” Jika telah selesai, kumandangkan adzan yang mampu kau dengar dari menaranya. Ingat, cuma dalam sementara 1 malam saja!”

Setelah mendengar perintah ayahnya, Pangeran Sabakingking bergegas meninggalkan Cirebon untuk ulang ke Banten. Setelah hingga di Banten diceritakanlah seluruh yang dialami selama di Cirebon kepada ibunya. Ibunya maphum dan bersedia menopang anaknya. Dipanggilah lebih dari 1000 jin sakti untuk menopang Pangeran Sabakingking, dan pas sementara matahari terbenam mereka mulai membangun fondasi Masjid di pesisir Banten.

Semua bekerja bersama beraneka ilmu, lebih dari 1000 Jin dikerahkan, dan mendekati matahari terbit menara pun baru selesai. Saat itulah Pangeran Sabakingking menaiki menara dan mengumandangkan Adzan seperti apa yang ia dengar di Kesultanan Cirebon, dan bersama tenaga dalam yang nyaris sempurna, terdengarlah alunan adzan yang menggema hingga ke seluruh alam.

Mendengar suara adzan yang punya kapabilitas yang luar biasa itu, Syarif Hidayatullah pun keluar dari keraton Kesultanan Cirebon dan segera perhatikan arah suara itu, yang tak tidak benar ulang itu adalah suara anaknya. Dan bersama ilmu Sancang, ilmu berlari cepat yang sulit di terima akal manusia, yang dimilikinya, cuma dalam sementara sebagian menit saja tibalah Syarif Hidayatullah ke Mesjid yang dibangun anaknya berikut dan melaksanakan sholat subuh di sana.

Pangeran Sabakingking jelas datangnya seseorang yang masuk ke Mesjidnya, dan dia bergegas menuju ke dalam. Alangkah kagetnya Pangeran Sabakingking sementara ternyata dihadapannya adalah Syarif Hidayatullah, ayahnya. “Anakku. Kau telah membangun Mesjid ini bersama baik, Mesjid ini bakal menjadi pusat penyebaran agama yang kubawa dan kau adalah pemimpinnya. Mulai hari ini namamu adalah Hasanudin. Dan bangunlah Kesultanan di sini, syiarkan Islam kepada rakyatmu.

Hasanudin pun membangun keraton di sekitar masjid yang dibangunnya, yang tidak berapa lama berdirilah keraton lengkap bersama singgasananya, untuk menopang penyebaran Islam di Banten, dan Syarif Hidayatullah memerintahkan rakyatnya untuk ikut membangun Banten. Berduyun-duyunlah rakyat Cirebon menuju Banten.

Mereka disambut rakyat Banten bersama antusias, seakan-akan perbauran pada rakyat Cirebon dan penduduk asli itu seperti halnya perpaduan pada Muhajirin dan Anshor masa Nabi Muhammad. Budaya dan bhs yang nyaris mirip bersama Cirebon merupakan bukti otentik yang terwariskan hingga sementara ini.

Sementara itu, Padjajaran sehabis mangkatnya prabu Siliwangi pecah menjadi menjadi dua kerajaan yaitu Kerajaan Pakuan dan Kerajaan Galuh. Kerajaan Pakuan di berikan kepada cucunya Ratu Dewata yang merupakan putri Raden Surawisesa yang dikenal bersama Pangeran Walangsungsang, tidak benar seorang putra Prabu Siliwangi.

Keinginan Kesultanan Cirebon untuk mengislamkan seluruh Kerajaan Padjajaran di dukung penuh oleh Maulana Hasanudin, yang juga dibantu oleh putra mahkota yaitu Sultan Maulana Yusuf, yang merupakan hasil pernikahan Maulana Hasanudin bersama Ratu Ayu Kirana.

Putri Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak. Selain Maulana Yusuf, Maulana Hasanudin punya putri bernama Ratu Pembayun yang menikah bersama Tubagus Angke putra Ki Mas Wisesa Adimarta dimana Tubagus Angke merupakan panglima perang Banten yang nantinya punya putra bernama Pangeran Jayakarta, yang kelak menjadi pajabat Kesultanan Banten di Jakarta, di mana nama Jakarta diambil alih dari namanya.

Related For Sejarah Raden Kian Santang Sampai Bertemu Ali Bin Abi Tholib